Rabu, 09 Juni 2010

EKOSISTEM DANAU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Hubungan saling mempengaruhi antara makhluk hidup dengan lingkungannya membentuk suatu sistem disebut ekosistem. Danau adalah salah satu bentuk ekosistem yang menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi dibandingkan dengan habitat laut dan daratan. Keberadaan ekosistem danau memberikan fungsi yang menguntungkan bagi kehidupan manusia (rumahtangga, industri, dan pertanian).
Beberapa fungsi danau secara ekosistem antara lain :
a. sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai penyumbang bahan genetik;
b. sebagai tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora/fauna yang penting,
c. sebagai sumber air yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat sekitarnya (rumahtangga, industri dan pertanian);
d. sebagai tempat penyimpanan kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau dari sumber-sumber air bawah tanah;
e. memelihara iklim mikro, di mana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaman dan tingkat curah hujan setempat;
f. sebagai sarana transportasi untuk memindahkan hasil-hasil pertanian dari tempat satu ke tempat lainnya;
g. sebagai penghasil energi melalui PLTA;
h. sebagai sarana rekreasi dan objek pariwisata.

Dua hal lain yang ditawarkan ekosistem danau adalah:
a. Sebagai sumber air yang paling praktis dan murah untuk kepentingan domestik maupun industri,
b. Sebagai sistem pembuangan yang memadai dan paling murah (Connell & Miller,1995).
Di dalam suatu ekosistem danau terdapat kesatuan proses yang saling terkait dan mempengaruhi antar semua komponen, baik komponen yang hidup [biotik] dan komponen tak hidup [abiotik]. Komponen-komponen tersebut sangat berpengaruh dalam keseimbangan suatu ekosistem. Ekosistem di katakan seimbang apabila komposisi di antara komponen-komponen tersebut dalam keadaan seimbang. Ekosistem yang seimbang, keberadaannya dapat bertahan lama atau kesinambungannya dapat terpelihara. Perubahan ekosistem dapat mempengaruhi keseimbangannya, perubahan tersebut dapat terjadi secara alami serta dapat pula karena aktivitas dan tindakan manusia.
Untuk itu, sebagai mahasiswa bidang budidaya perairan perlu mempelajari tentang ekosistem danau mengenai komponen-komponen yang terkait di dalamnya.

1.2 Tujuan
a. Mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup ekosistem danau.
b. Mahasiswa dapat mengetahui permasalahan yang dapat merusak ekosistem danau dan upaya untuk menanggulangi permasalahan tersebut.











BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Ekosistem danau
Salah satu ekosistem air tawar yang termasuk ekosistem air tenang adalah danau. Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Danau terjadi karena glacier, tanah longsor yang membendung lembah, pelarutan mineral tertentu dalam tanah sehingga permukaan tanah menurun membentuk cekungan. Danau juga dapat dibentuk oleh kawah gunung api yang sudah mati atau gobah yang terbentuk di pinggir laut.
Ekosistem danau ditandai oleh adanya bagian perairan yang dalam sehingga tumbuh-tumbuhan berakar tidak dapat tumbuh di bagian ini. Berbeda dengan ekosistem kolam yang tidak dalam (kedalamannya tidak lebih dari 4-5 meter) yang memungkinkan tumbuh-tumbuhan berakar dapat tumbuh di semua bagian perairan.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Ekosistem danau mempunyai 4 zona (daerah) yakni:
1. Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.
Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ika€n, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.
2. Daerah Limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama musim panas dan musim semi.
Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.
3. Daerah Profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.
4. Daerah Bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.

Gambar 1. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar
Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :
a. Danau Oligotropik
Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciri-cirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b. Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya
adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan
oksigen terdapat di daerah profundal.
Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
2.1.1. Susunan Ekosistem
Dilihat dari susunan dan fungsinya, ekosistem danau tersusun atas komponen sebagai berikut.


a. Komponen autotrof
(Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau. Dengan demikian produsen merupakan sumber energi utama bagi organisme lain,yaitu konsumen.
b. Komponen heterotrof
(Heteros = berbeda, trophikos = makanan).
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba. Berdasarkan jenis makanannya,konsumen di kelompokkan sebagai berikut;
a) Pemekan tumbuhan [herbivora],nisalnyakambing,kerbau,kelini dan sapi.
b) Pemakan daging[karnivora],misalnya harimau,burung elang,dan serigala,
c) Pemakan tmbuhan dan daging[omnivora],misalnya ayam,itik, dan orabg hutan.
c. Pengurai (decomposer).
Kelompok ini berperan penting dalam ekosistem. Jika kelompok ini tidak ada, kita akan melihat sampah yang menggunung dan makhluk hidup yang mati tetap utuh selamanya. Dekomposer berperan sebagai pengurai,yang menguraikan zat-zat organic (dari bangkai) menjadi zat-zat organik penyusunnya.


d. Bahan tak hidup (abiotik)
Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Bagian dari komponen abiotik adalah ;
• Tanah.
Sifat-sifat fisik tanah yang berperan dalam ekosistem meliputi tekstur, kematangan, dan kemapuan menahan air.
• Air.
Hal-hal penting pada air yang mempengaruri kehidupan makhluk hidup adalah suhu air,kadar mineral air,salinitas,arus air,penguapan,dan kedalaman air.
• Udara.
Udara merupakan lingkungan abiotik yang berupa gas.Gas itu berbentuk atmosfer yang melingkupi makhluk hidup. Oksigen,karbon dioksida,dan nitrogen merupakan gas yang paling pentung bagi kehidupan makhluk hidup.
• Cahaya matahari
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan di bumi ini. Namun demikian, penyebaran cahaya di bumi belum merata. Oleh karena itu, organisme harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang intensitas dan kualitas cahayanya berbeda.
• Suhu atau temperatur.
Setiap makhluk hidup memerlukan suhu optimum untuk kegiatan metabolisme dan perkembangbiakannya.



Organisme yang hidup di danau pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme danau adalah sebagai berikut.
a. Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di danau biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
b. Adaptasi hewan
Ekosistem danau dihuni oleh berbagai organisme. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem danau, misalnya salah satunya seperti ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.

Gambar 2. Berbagai Organisme Air Tawar Berdasarkan Cara Hidupnya

Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.
1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.
2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
a. Plankton; terdiri alas fitoplankton dan zooplankton; biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
b. Nekton; hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
c. Neuston; organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
d. Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya eong.
e. Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis. Lihat Gambar.
2.1.2 Ketergantungan Antarkomponen Ekosistem
Tidak ada makhluk hidup yang mampu hidup sendiri.Di antara makhluk hidup tersebut terjadi hubungan saling membutuhkan,atau dengan kata lain terjadi ketergantungan. Ketergantungan tidak hanya terjadi antar makhluk hidup [komponen biotik], tetapi juga terjadi antara komponen abiotik dan biotik.
Rantai makanan dan jaring-jaring makanan.
Rantai makanan adalah perpindahan materi dan energi dari makhluk hidup satu ke Makhluk hidup lain melalui proses makan di makan dengan urutan tertentu. Sedangkan Kumpulan rantai makanan yang saling berhubungan disebut jaring-jaring makanan.
Jika dalam suatu ekosistem di gambarkan jumlah populasi produsen sampai konsumen tertinggi, akan membentuk gambaran seperti piramida.Gambaran seperti ini disebut piramida makanan. Supaya piramida makanan tersusun dengan baik,populasi dalam suatu ekosistem harus seimbang.Oleh karena itu,populasi produsen harus lebih banyak dari pada populasi konsumen tingkat 1. Konsumen tingkat 1 harus lebih banyak dari pada konsumen tngkat 11.Dengan demikian,semakin tinggi tingkatan suatu konsumen, jumlahnya semakin sedikit.
Aliran energy
Dalam suatu ekosistem terjadi proses makan dan di makan yang di lakukan organisme untuk memperoleh tenaga atau energi. Jadi,proses makan dan di makan dalam suatu rantai makanan dan jaring-jaring makanan dapat di katakan sebagai proses aliran energi.
2.1.3 Keseimbangan Ekosistem.
Ekosistem dikatakan seimbang apabila komposisi di antara komponen-komponen tersebut dalam keadaan seimbang. Ekosistem yang seimbang, keberadaannya dapat bertahan lama atau kesinambungannya dapat terpelihara. Perubahan ekosistem dapat mempengaruhi keseimbangannya. Perubahan ekosistem dapat terjadi secara alami serta dapat pula karena aktivitas dan tindakan manusia.
1. Perubahan Ekosistem secara Alami
Perubahan ekosistem secara alami dapat terjadi karena adanya gangguan alam. Misalnya gunung meletus,kebakaran hutan, dan perubahan musim. Bencana alam dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.


2. Perubahan Ekosisstem karena Tindakan Manusia
Perubahan ekosistem dapat terjadi karena tindakan manusia. Manusia merupakan salah satu komponen biotik dalam suatu ekosistem. Manusia mempunyai peranan dan tanggung jawab terhadap pengelolaan ekosistem. Akan tetapi, manusia juga dapat merusak ekosistem.

2.2 Kerusakan ekosistem danau
Penyebab rusaknya ekosistem danau

Sebagai sumber air paling praktis, danau sudah menyediakannya melalui terkumpulnya air secara alami melalui aliran permukaan yang masuk ke danau, aliran sungai-sungai yang menuju ke danau dan melalui aliran di bawah tanah yang secara alami. Bentuk fisik danaupun memberikan daya tarik sebagai tempat membuang yang praktis.

Jika semua dibiarkan demikian, maka akan mengakibatkan danau tak akan bertahan lama berada di muka bumi. Saat ini terlihat ekosistem danau tidak dikelola sebagaimana mestinya. Sebaliknya, untuk memenuhi kepentingan manusia, lingkungan sekitar danau diubah untuk dicocokkan dengan cara hidup dan cara bermukim manusia, atau bahkan kawasan ini sering dirombak untuk menampung berbagai bentuk kegiatan manusia seperti permukiman, prasarana jalan, saluran limbah rumah tangga, tanah pertanian, rekreasi dan sebagainya
.
Dengan kondisi tersebut, umumnya permasalahan yang timbul adalah:
1. Tidak jelasnya batas tata ruang pemanfaatan di kawasan danau yang mengakibatkan kerusakan hutan, pendangkalan danau secara terus menerus
2. Tandusnya gunung-gunung di sekitar danau sebagai daerah tangkapan air mengakibatkan debit air danau menurun di musim kemarau dan banjir di musim hujan.
3. Budidaya perairan danau dengan teknik karamba/floating net di danau yang tidak teratur mengakibatkan pencemaran sampah dan meningkatnya proses penyuburan rumput danau (arakan) yang menyebabkan tekanan ekologis terhadap habitat beberapa ikan dan biota danau endemik lainnya, yang terus berlangsung secara intensif.
4. Orientasi komersil masyarakat lokal di kawasan danau terhadap pertanian mengakibatkan monokultur yang tidak ramah lingkungan
5. Tekanan ekonomi secara umum dan kurangnya pemahaman masyarakat lokal terhadap pelestarian nilai dan potensi sumberdaya alamnya sejak lama mengakibatkan pengurasan sumberdaya alam dan menurunnya populasi keanekaragaman hayati endemik di kawasan sekitar danau
6. Pengembangan daerah pemukiman, pariwisata, dan pembangunan sarana publik di kawasan sekitar danau yang tidak memperhatikan aspek lingkungan mengakibatkan perusakan ekosistem daerah aliran sungai (DAS) secara tidak langsung
7. Menurunnya debit air danau mengancam suplai air untuk pembangkit listril tenaga air (PLTA), persawahan masyarakat dan PDAM setempat.

Selain itu, danau juga dapat dilihat sebagai kawasan yang memiliki potensi alam sumberdaya hayati ikan tawar dan merupakan daya tarik tersendiri bagi industri perikanan dan pariwisata. Tetapi sayangnya, karakteristik masyarakat setempat dalam memanfaatkan potensi alamnya masih sangat sederhana dalam berbagai aspek pengelolaannya. Permasalahan umum yang sering timbul adalah:
1. Pengembangan sarana wisata yang tidak terkendali mengakibatkan masyarakat lokal kehilangan akses terhadap tanah dan sumber daya alam.
2. Meningkatnya pencemaran sampah padat dari sungai-sungai yang bermuara ke danau dan kegiatan sekitar danau serta kegiatan wisata yang mengurangi nilai estetika dan meningkatnya kerusakan ekosistem
3. Pengelolaan sumberdaya alam yang tidak teratur karena keterdesakan permasalahan di atas dan tekanan ekonomi secara umum yang dihadapi masyarakat lokal serta kurangnya pemahaman terhadap pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan sehingga menimbulkan tindakan-tindakan yang merusak ekosistem

Sementara itu, kondisi ekosistem danau tidak lepas dari pengaruh kondisi sungai-sungai yang mengalir masuk (inlet) bagi danau. Danau merupakan bagian hulu dari DAS. Dari beberapa hasil penelitian, beberapa daerah aliran sungai (DAS) telah mengalami degradasi lingkungan, akibat kegiatan-kegiatan pembangunan pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, pariwisata dan industri di DAS. Hal ini mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang selain memberikan manfaat juga menimbulkan dampak negatif terhadap fungsi ekologi, ekonomi, dan estetika ekosistem danau. Sehingga seringkali terjadi pemanfaatan danau dan konservasi danau yang tidak berimbang, dimana pemanfaatan danau lebih mendominasi sumberdaya alam danau dan kawasan daerah aliran sungai (watershed). Hal ini mengakibatkan danau berada pada kondisi suksesi, yaitu berubah dari ekosistem perairan ke bentuk ekosistem daratan.

Pendangkalan akibat erosi maupun eutrofikasi merupakan penyebab suksesi suatu perairan danau. Hilangnya ekosistem danau mengakibatkan kekurangan cadangan air tanah pada suatu kawasan/wilayah yang bakal mengancam ketersediaan air bersih bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Akibatnya, keberlanjutan suatu lingkungan hidup yang didalamnya terdapat manusia dan alam terancam tak dapat berlanjut. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian menyeluruh mengenai pola dan struktur pemanfaatan ruang di kawasan danau ini, yang kemudian dimanifestasikan menjadi peraturan daerah ke dalam bentuk Rencana Tata Ruang Kawasan Danau.


Upaya perbaikan ekosistem danau

Berdasarkan fungsi sebuah danau yang telah disebutkan di bagian sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa untuk menjaga fungsi tersebut untuk tetap berjalan, suatu ekosistem danau harus mampu mengatasi persoalan-persoalan yang mungkin muncul.

Upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan penyusunan rencana tata ruang wilayah, secara umum dilaksanakan melalui pendekatan-pendekatan:
• Pendekatan politis yang menyangkut berbagai aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan;
• Pendekatan strategis yang menyangkut penentuan fungsi wilayah, pengembangan kegiatan wilayah dan pengembangan tata ruang wilayah yang merupakan penjabaran dan pengisian dari rencana-rencana pembangunan nasional dan daerah secara jangka panjang;
• Pendekatan teknis yang menyangkut upaya mengoptimasikan pemanfaatan ruang wilayah, diantaranya meliputi perbaikan lingkungan, meremajakan manajemen pertanahan, memberikan fasilitas dan utilitas secara tepat, mengefisiensikan pola transportasi dan menjaga kelestarian dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan sesuai dengan kaidah teknis perencanaan.

Perencanaan dalam satu koridor solusi bagi daerah dalam bentuk rumusan yang membentuk sinergi sebesar-besarnya serta tidak saling bertentangan dengan lingkungan atas kegiatan-kegiatan sosial ekonomi serta dapat menjamin kelestarian lingkungan sesuai dengan asas pembangunan yang berkelanjutan sebagai merupakan dimensi (matra) spasial dari rencana pembangunan. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan cara mengakomodasi semua pendapat/aspirasi para stakeholder melalui media diskusi. Aspirasi tersebut kemudian akan disaring menjadi satu pernyataan tujuan pengembangan ruang kawasan danau yang mendapat sinyal positif dari daerah dan pemerintah sendiri.
BAB III
KESIMPULAN
1. ekosistem danau tersusun atas komponen biotik dan komponen abiotik. Ekosistem danau ditandai oleh adanya bagian perairan yang dalam sehingga tumbuh-tumbuhan berakar tidak dapat tumbuh di bagian ini. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi dengan 4 zona yang digolongkan ke dalam zona litoral, limnetik, profundal dan bentik. Selain itu berdasarkan produksi materi organik-nya danau dikelompokkan menjadi danau oligotropik dan eutropik. Dilihat dari susunan dan fungsinya, ekosistem danau tersusun atas komponen autotrof, heterotrof, decomposer dan abiotik. Sedangkan berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidupnya, hewan yang hidup di danau terdiri dari plankton, nekton, neuston, perifiton dan bentos. Yang mana semua komponen-komponen tersebut saling ketergantungan antar satu dengna lainnya.
2. Masalah yang menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem danau ialah pengelolaan potensi ekosistem danau tidak dikelola sebagaimana mestinya, antara lain seperti Pengembangan sarana wisata yang tidak terkendali, Meningkatnya pencemaran sampah padat dari sungai-sungai yang bermuara ke danau dan kegiatan sekitar danau. Upaya yang dapat dilakukan baik melalui Pendekatan politis, strategis maupun pendekatan teknis.






DAFTAR PUSTAKA

Coekh, udhi. 2009. Ekosistem.http://pengertianekosistem.blogspot.com/2009/02/ekosistem-1.html.
http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar